Rabu, 18 Desember 2013

ANALISIS PENGARUH AFTA TERHADAP INDUSTRI SEKTOR RILL DAN SEKTOR TENAGA KERJA

Indonesia bersama negara anggota ASEAN lainnya telah menandatangani Deklarasi ASEAN pada 20 November 2007 lalu di Singapura guna menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 mendatang. Namun, sebelum proses tersebut dilakukan  sebuah kesepakatan ASEAN Free Trade Area (AFTA) dilaksanakan yang ditandatangani di Singapura pada 28 Januari 1992.
 AFTA di bentuk dengan tujuan agar menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global, dan menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) yaitu penanaman modal asing yang direpresentasikan di dalam asset riil seperti: tanah, bangunan, peralatan dan teknologi, serta meningkatkan perdagangan antar negara anggota ASEAN.
Dalam mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, diberlakukanlah penurunan tarif barang perdagangan dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0–5 %) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN melalui skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) dimana selain penurunan tarif juga dimaksudkan untuk penghapusan pembatasan kuantitatif (kouta) dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Pemberlakuan AFTA secara penuh pada 1 Januari 2003 ditujukan kepada enam Negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Diharapkan melalui kesepakatan tersebut seluruh Negara anggota dapat mencapai kesejahteraan seiring dengan peningkatan kegiatan perdagangan dalam AFTA.
Namun, bagaimanakah pengaruh AFTA terhadap industri sektor riil dan sektor tenaga kerja bagi negara Indonesia? Atas dasar itu, berikut dilakukan kajian analisis jurnal singkat yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh AFTA terhadap industri sektor riil dan sektor tenaga kerja bagi negara Indonesia.
Inti dari CEPT dalam persetujuan AFTA adalah pengurangan berbagai tarif impor dan penghapusan hambatan non-tarif atas perdagangan dalam lingkup ASEAN. Hal ini membawa implikasi bagi Indonesia sendiri. Pertama, AFTA merupakan kerjasama yang menguntungkan sebab AFTA merupakan peluang bagi kegiatan eksport komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan di Indonesia dan sekaligus menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan komoditas yang kompetitif dengan pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya saing ini akan mendorong perekonomian Indonesia untuk semakin berkembang. AFTA juga merangsang para pelaku usaha di Indonesia untuk menghasilkan barang yang berkualitas sehingga dapat bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN lainnya.
AFTA juga dianggap dapat memberikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah di Indonesia untuk mengekspor barangnya. Hal ini membuat para pelaku usaha tersebut mendapatkan pasar untuk melempar produk-produknya selain di pasar dalam negeri. Adanya kesempatan besar bagi para pelaku usaha di Indonesia untuk lebih meningkatkan produk barangnya dari segi mutu juga mendorong kesadaran para pengusaha-pengusaha di Indonesia untuk memiliki daya saing usaha yang kuat.
Selain itu para pengusaha/produsen Indonesia akan lebih rendah mengeluarkan biaya produksi, dimana diketahui bahwa beberapa produk Indonesia ada juga yang membutuhkan barang modal dan bahan baku/penolong dari negara anggota ASEAN lainnya sehingga dengan adanya pembebasan tarif akan lebih meringankan pengeluaran biaya produksi yang juga akan secara bersamaan mengurangi biaya pemasaran, sehingga harga produk Indonesia tersebut dapat lebih ditekan yang akhirnya dengan kualitas yang baik produk Indonesia dapat dipasarkan dengan harga terjangkau yang kemudian akan memberikan keuntungan sebab para konsumen akan lebih tertarik dengan nilai harga yang ditawarkan.
Sehingga menyebabkan pengusaha/produsen Indonesia mengalami keuntungan hal ini menyebabkan upah mengalami kenaikan sehingga menaikkan pasar tenaga kerja sesuai dengan kurva penwaran tenaga kerja yakni seseorang akan memasuki pasar kerja jika upah yang ditawarkan melebihi dari upah reservasi. Pada tingkat upah diatas upah reservasi, kurva penawaran tenaga kerja memiliki slope positif sampai pada titik tertentu.
Bukan hanya itu implikasi positif lainnya pada sektor tenaga kerja di Indonesia yakni terbukanya kerjasama dalam menjalankan bisnis dengan beraliansi bersama pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya. Melalui aliansi ini, para pebisnis Indonesia akan lebih memperluas jaringannya, yang kelak akan mengantarkan mereka tidak hanya berbisnis di area ASEAN saja tetapi juga dapat menjadi batu loncatan ke pasar global, hal ini akan sangat bermanfaat untuk prosuden-produsen rumahan, yang akan lebih meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya serta memberikan keuntungan bagi negara dimana akan terbentuk pemahaman di benak konsumen luar negeri bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh pasar domestik Indonesia memiliki kualitas internasional dengan penanganan yang berstandar tinggi.

AFTA bagaikan pisau bermata ganda bagi Indonesia. Selain dapat memberikan keuntungan yang besar namun dapat pula mencengkeram dan memerasa tanpa henti hingga akan berbalik memberikan kerugian jika tanpa maksimal dan dukungan penuh oleh setiap pihak yang berpengaruh di dalamnya.
Selain manfaat  yang didapatkan dari sisi positif pengaruh AFTA. Munculnya AFTA dianggap dapat memunculkan  persaingan yang tidak seimbang bagi negara anggota ASEAN itu sendiri. Pasalnya,  Penurunan tarif barang bagi barang yang masuk dari negara anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Sebab, Ketidaksiapan pasar industri lokal juga yang menjadi kendala bagi berjalannya AFTA dan penerapan penurunan tarif.  Seperti negara-negara anggota ASEAN lainnya,
 Indonesia pun mengalami hal yang sama. Daya saing barang yang diperdagangkan kurang memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan banyaknya industri-industri kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian yang besar. Persaingan produk dalam negeri dengan produk yang masuk kedalam negeri membuat para pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya. Hal tersebut tidaklah mudah dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh para pengusaha-pengusaha kecil dan menengah. Belum lagi keterbatasan dari segi infrastruktur di Indonesia, keterbatasan tekhnologi yang menunjang produksi para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia juga menjadi suatu masalah tersendiri. Dalam AFTA para pengusaha dipaksa untuk memiliki daya saing yang tinggi, agar nantinya pengusaha-pengusaha dalam negeri ini dapat mandiri.
Hal ini terlihat dari banyaknya para pengusaha yang tergolong pengusaha kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian besar dan produksinya berhenti dikarenakan kualitas barang mereka kalah dibandingkan dengan barang-barang yang masuk dari Vietnam dan Cina. Contohnya industri rotan di Indonesia, biasanya para pengusaha rota hanya mengirim berupa rotan yang belum diolah sehingga merugikan pihak pengusaha rotan dalam negeri, sedangkan rotan yang masuk dari Cina dan Vietnam biasanya telah diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dari permasalah tersebut seharusnya pemerintah sudah memiliki langkah yang pasti untuk melindungi para pengusaha rotan, caranya dengan mengekspor produk rotan bukan sekedar bahan dasarnya saja tapi berupa rotan yang telah di olah menjadi suatu produk yang harga jualnya lebih tinggi, sama dengan yang diekspor Vietnam dan Cina. Jika sokongan pemerintah tidak penuh dan maksimal dalam program AFTA sudah dapat di prediksikan para pengusaha besar, menengah ataupun kecil mengalami kerugian bahkan gulung tikar dikarenakan produknya kalah bersaing dengan produk dengan negara lain sebab faktanya produk-produk ekspor andalan negara anggota AFTA secara umum lebih bersifat ‘subtitutif’ daripada ‘komplementer’, dalam arti produk-produk yang dihasilkan cenderung serupa sehingga sulit diharapkan agar masing-masing anggota dapat menyerap produk mereka satu sama lain dan juga memiliki nila tambah yang lebih tinggi. Bahkan di pasar produk-produk mereka akan bersaing dan dapat mematikan produk yang tidak unggul secara komparatif. Sehingga menyebabkan banyak tejadi PHK dan angka pengangguran naik dikarenakan ketidakmampuan perusahaan dalam membayar upah tenaga kerja hal ini menyebabkan  penawaran tenaga kerja mengalami penurunan.
Table 1
Indeks Keunggulan Komparatif Produk Negara ASEAN



Hal ini dibuktikan dengan Tabel 1 menunjukkan Index keunggulan komparatif produk ekspor andalan anggota-anggota ASEAN yang dinyatakan dalam skema CEPT. Dalam tabel tampak bahwa Indonesia tidak cukup dominan dalam hal keunggulan komparatif produk-produk ekspornya, bahkan dibandingkan dengan Kamboja yang terhitung sebagai pemain baru dalam transaksi perdagangan regional. Dari seluruh produk unggulan, hanya produk kayu lapis dan plywood yang tidak tersaingi oleh anggota lainnya dengan index 37, disusul kemudian oleh produk karet alam dimana Indonesia hanya menduduki tempat ketiga setelah Kamboja dan Thailand. Prestasi peningkatan volume ekspor Indonesia pada tahun 2000 seperti diuraikan di atas tiada lain lebih merupakan hasil transaksi perdagangan Indonesia dengan pihak di luar ASEAN, khususnya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam transaksi perdagangan di kawasan, sepertinya Indonesia tidak bisa berharap terlalu banyak. Terlebih jika mengingat bahwa produk kayu lapis dan plywood berbahan dasar kayu hutan, dan bukan rahasia lagi bahwa luas hutan di Indonesia mengalami penyusutan yang sangat drastis dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, secara ekonomi produk tersebut tidak akan dapat dijadikan produk andalan dalam jangka menengah apalagi jangka panjang, mengingat semakin langkanya bahan baku kayu.
Seperti terlihat pada tabel, dari seluruh anggota AFTA hanya Singapura yang relatif memiliki produk unggulan berbeda, yaitu di sektor-sektor menyangkut penggunaan teknologi elektronik dan informatika, sisanya lebih menekankan pada pertanian dan hasil alam. Pertanyaanya kemudian adalah, bagaimana agar di dalam pelaksanaan AFTA negara anggota yang kurang memiliki variasi produk unggulan tidak tenggelam dalam persaingan, dimana hal tersebut akan bertentangan dengan tujuan awal dibentuknya organisasi ini. Tantangan inilah diantara yang harus dijawab oleh AFTA dan anggota-anggotanya, khususnya Indonesia. Apabila pemerintah mampu memecahkan persoalan ini dan dapat secara jeli memetakan dan kemudian memanfaatkan pasar regional ASEAN yang saat ini mencapai lebih dari setengah milyar jiwa, terdapat dua peluang besar terbuka bagi Indonesia terkait dengan perdagangan, yaitu kesempatan untuk fully-recovered pasca krisis ekonomi; dan yang kedua adalah kesempatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang stabil dan signifikan sebagaimana yang terjadi pada periode tahun 1970an hingga menjelang krisis ekonomi 1997.
            Dengan pernyataan lain, dapat dikatakan bahwa AFTA dapat memberikan pengaruh  yang positif dan menguntungkan bagi Indonesia, jika terdapat sinergi kerja sama yang baik dan penuh antara para pengusaha dan pemerintah Indonesia. Sebab,   kerja sama dalam menemukan  solusi yang jelas bagi para pengusaha di Indonesia akan membantu Indonesia dalam menghadapi pasar bebas jenis apapun yang diberlakukan yakni sebagian kecilnya adalah pemerintah memberikan modal bagi peningkatan kualitas produksi dan standar mutu barang.  Sehingga, Indonesia pun dapat bersaing dalam peningkatan kualitas barang produksinya dengan produk-produk lain yang masuk ke pasar dalam negeri maupun luar negeri region ASEAN.
Referensi :

Indonesia bersama negara anggota ASEAN lainnya telah menandatangani Deklarasi ASEAN pada 20 November 2007 lalu di Singapura guna menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 mendatang. Namun, sebelum proses tersebut dilakukan  sebuah kesepakatan ASEAN Free Trade Area (AFTA) dilaksanakan yang ditandatangani di Singapura pada 28 Januari 1992.
 AFTA di bentuk dengan tujuan agar menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global, dan menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) yaitu penanaman modal asing yang direpresentasikan di dalam asset riil seperti: tanah, bangunan, peralatan dan teknologi, serta meningkatkan perdagangan antar negara anggota ASEAN.
Dalam mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, diberlakukanlah penurunan tarif barang perdagangan dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0–5 %) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN melalui skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) dimana selain penurunan tarif juga dimaksudkan untuk penghapusan pembatasan kuantitatif (kouta) dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Pemberlakuan AFTA secara penuh pada 1 Januari 2003 ditujukan kepada enam Negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Diharapkan melalui kesepakatan tersebut seluruh Negara anggota dapat mencapai kesejahteraan seiring dengan peningkatan kegiatan perdagangan dalam AFTA.
Namun, bagaimanakah pengaruh AFTA terhadap industri sektor riil dan sektor tenaga kerja bagi negara Indonesia? Atas dasar itu, berikut dilakukan kajian analisis jurnal singkat yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh AFTA terhadap industri sektor riil dan sektor tenaga kerja bagi negara Indonesia.
Inti dari CEPT dalam persetujuan AFTA adalah pengurangan berbagai tarif impor dan penghapusan hambatan non-tarif atas perdagangan dalam lingkup ASEAN. Hal ini membawa implikasi bagi Indonesia sendiri. Pertama, AFTA merupakan kerjasama yang menguntungkan sebab AFTA merupakan peluang bagi kegiatan eksport komoditas pertanian yang selama ini dihasilkan di Indonesia dan sekaligus menjadi suatu tantangan tersendiri untuk menghasilkan komoditas yang kompetitif dengan pasar regional AFTA sendiri. Peningkatan daya saing ini akan mendorong perekonomian Indonesia untuk semakin berkembang. AFTA juga merangsang para pelaku usaha di Indonesia untuk menghasilkan barang yang berkualitas sehingga dapat bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN lainnya.
AFTA juga dianggap dapat memberikan peluang bagi pengusaha kecil dan menengah di Indonesia untuk mengekspor barangnya. Hal ini membuat para pelaku usaha tersebut mendapatkan pasar untuk melempar produk-produknya selain di pasar dalam negeri. Adanya kesempatan besar bagi para pelaku usaha di Indonesia untuk lebih meningkatkan produk barangnya dari segi mutu juga mendorong kesadaran para pengusaha-pengusaha di Indonesia untuk memiliki daya saing usaha yang kuat.
Selain itu para pengusaha/produsen Indonesia akan lebih rendah mengeluarkan biaya produksi, dimana diketahui bahwa beberapa produk Indonesia ada juga yang membutuhkan barang modal dan bahan baku/penolong dari negara anggota ASEAN lainnya sehingga dengan adanya pembebasan tarif akan lebih meringankan pengeluaran biaya produksi yang juga akan secara bersamaan mengurangi biaya pemasaran, sehingga harga produk Indonesia tersebut dapat lebih ditekan yang akhirnya dengan kualitas yang baik produk Indonesia dapat dipasarkan dengan harga terjangkau yang kemudian akan memberikan keuntungan sebab para konsumen akan lebih tertarik dengan nilai harga yang ditawarkan.
Sehingga menyebabkan pengusaha/produsen Indonesia mengalami keuntungan hal ini menyebabkan upah mengalami kenaikan sehingga menaikkan pasar tenaga kerja sesuai dengan kurva penwaran tenaga kerja yakni seseorang akan memasuki pasar kerja jika upah yang ditawarkan melebihi dari upah reservasi. Pada tingkat upah diatas upah reservasi, kurva penawaran tenaga kerja memiliki slope positif sampai pada titik tertentu.
Bukan hanya itu implikasi positif lainnya pada sektor tenaga kerja di Indonesia yakni terbukanya kerjasama dalam menjalankan bisnis dengan beraliansi bersama pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya. Melalui aliansi ini, para pebisnis Indonesia akan lebih memperluas jaringannya, yang kelak akan mengantarkan mereka tidak hanya berbisnis di area ASEAN saja tetapi juga dapat menjadi batu loncatan ke pasar global, hal ini akan sangat bermanfaat untuk prosuden-produsen rumahan, yang akan lebih meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya serta memberikan keuntungan bagi negara dimana akan terbentuk pemahaman di benak konsumen luar negeri bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh pasar domestik Indonesia memiliki kualitas internasional dengan penanganan yang berstandar tinggi.

AFTA bagaikan pisau bermata ganda bagi Indonesia. Selain dapat memberikan keuntungan yang besar namun dapat pula mencengkeram dan memerasa tanpa henti hingga akan berbalik memberikan kerugian jika tanpa maksimal dan dukungan penuh oleh setiap pihak yang berpengaruh di dalamnya.
Selain manfaat  yang didapatkan dari sisi positif pengaruh AFTA. Munculnya AFTA dianggap dapat memunculkan  persaingan yang tidak seimbang bagi negara anggota ASEAN itu sendiri. Pasalnya,  Penurunan tarif barang bagi barang yang masuk dari negara anggota ASEAN menimbulkan kerugian. Sebab, Ketidaksiapan pasar industri lokal juga yang menjadi kendala bagi berjalannya AFTA dan penerapan penurunan tarif.  Seperti negara-negara anggota ASEAN lainnya,
 Indonesia pun mengalami hal yang sama. Daya saing barang yang diperdagangkan kurang memenuhi standar yang ditetapkan, hal ini mengakibatkan banyaknya industri-industri kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian yang besar. Persaingan produk dalam negeri dengan produk yang masuk kedalam negeri membuat para pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas barang produksinya. Hal tersebut tidaklah mudah dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh para pengusaha-pengusaha kecil dan menengah. Belum lagi keterbatasan dari segi infrastruktur di Indonesia, keterbatasan tekhnologi yang menunjang produksi para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia juga menjadi suatu masalah tersendiri. Dalam AFTA para pengusaha dipaksa untuk memiliki daya saing yang tinggi, agar nantinya pengusaha-pengusaha dalam negeri ini dapat mandiri.
Hal ini terlihat dari banyaknya para pengusaha yang tergolong pengusaha kecil dan menengah di Indonesia mengalami kerugian besar dan produksinya berhenti dikarenakan kualitas barang mereka kalah dibandingkan dengan barang-barang yang masuk dari Vietnam dan Cina. Contohnya industri rotan di Indonesia, biasanya para pengusaha rota hanya mengirim berupa rotan yang belum diolah sehingga merugikan pihak pengusaha rotan dalam negeri, sedangkan rotan yang masuk dari Cina dan Vietnam biasanya telah diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dari permasalah tersebut seharusnya pemerintah sudah memiliki langkah yang pasti untuk melindungi para pengusaha rotan, caranya dengan mengekspor produk rotan bukan sekedar bahan dasarnya saja tapi berupa rotan yang telah di olah menjadi suatu produk yang harga jualnya lebih tinggi, sama dengan yang diekspor Vietnam dan Cina. Jika sokongan pemerintah tidak penuh dan maksimal dalam program AFTA sudah dapat di prediksikan para pengusaha besar, menengah ataupun kecil mengalami kerugian bahkan gulung tikar dikarenakan produknya kalah bersaing dengan produk dengan negara lain sebab faktanya produk-produk ekspor andalan negara anggota AFTA secara umum lebih bersifat ‘subtitutif’ daripada ‘komplementer’, dalam arti produk-produk yang dihasilkan cenderung serupa sehingga sulit diharapkan agar masing-masing anggota dapat menyerap produk mereka satu sama lain dan juga memiliki nila tambah yang lebih tinggi. Bahkan di pasar produk-produk mereka akan bersaing dan dapat mematikan produk yang tidak unggul secara komparatif. Sehingga menyebabkan banyak tejadi PHK dan angka pengangguran naik dikarenakan ketidakmampuan perusahaan dalam membayar upah tenaga kerja hal ini menyebabkan  penawaran tenaga kerja mengalami penurunan.
Table 1
Indeks Keunggulan Komparatif Produk Negara ASEAN



Hal ini dibuktikan dengan Tabel 1 menunjukkan Index keunggulan komparatif produk ekspor andalan anggota-anggota ASEAN yang dinyatakan dalam skema CEPT. Dalam tabel tampak bahwa Indonesia tidak cukup dominan dalam hal keunggulan komparatif produk-produk ekspornya, bahkan dibandingkan dengan Kamboja yang terhitung sebagai pemain baru dalam transaksi perdagangan regional. Dari seluruh produk unggulan, hanya produk kayu lapis dan plywood yang tidak tersaingi oleh anggota lainnya dengan index 37, disusul kemudian oleh produk karet alam dimana Indonesia hanya menduduki tempat ketiga setelah Kamboja dan Thailand. Prestasi peningkatan volume ekspor Indonesia pada tahun 2000 seperti diuraikan di atas tiada lain lebih merupakan hasil transaksi perdagangan Indonesia dengan pihak di luar ASEAN, khususnya dengan Jepang dan Amerika Serikat. Sementara itu, dalam transaksi perdagangan di kawasan, sepertinya Indonesia tidak bisa berharap terlalu banyak. Terlebih jika mengingat bahwa produk kayu lapis dan plywood berbahan dasar kayu hutan, dan bukan rahasia lagi bahwa luas hutan di Indonesia mengalami penyusutan yang sangat drastis dari tahun ke tahun. Dengan kata lain, secara ekonomi produk tersebut tidak akan dapat dijadikan produk andalan dalam jangka menengah apalagi jangka panjang, mengingat semakin langkanya bahan baku kayu.
Seperti terlihat pada tabel, dari seluruh anggota AFTA hanya Singapura yang relatif memiliki produk unggulan berbeda, yaitu di sektor-sektor menyangkut penggunaan teknologi elektronik dan informatika, sisanya lebih menekankan pada pertanian dan hasil alam. Pertanyaanya kemudian adalah, bagaimana agar di dalam pelaksanaan AFTA negara anggota yang kurang memiliki variasi produk unggulan tidak tenggelam dalam persaingan, dimana hal tersebut akan bertentangan dengan tujuan awal dibentuknya organisasi ini. Tantangan inilah diantara yang harus dijawab oleh AFTA dan anggota-anggotanya, khususnya Indonesia. Apabila pemerintah mampu memecahkan persoalan ini dan dapat secara jeli memetakan dan kemudian memanfaatkan pasar regional ASEAN yang saat ini mencapai lebih dari setengah milyar jiwa, terdapat dua peluang besar terbuka bagi Indonesia terkait dengan perdagangan, yaitu kesempatan untuk fully-recovered pasca krisis ekonomi; dan yang kedua adalah kesempatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang stabil dan signifikan sebagaimana yang terjadi pada periode tahun 1970an hingga menjelang krisis ekonomi 1997.
            Dengan pernyataan lain, dapat dikatakan bahwa AFTA dapat memberikan pengaruh  yang positif dan menguntungkan bagi Indonesia, jika terdapat sinergi kerja sama yang baik dan penuh antara para pengusaha dan pemerintah Indonesia. Sebab,   kerja sama dalam menemukan  solusi yang jelas bagi para pengusaha di Indonesia akan membantu Indonesia dalam menghadapi pasar bebas jenis apapun yang diberlakukan yakni sebagian kecilnya adalah pemerintah memberikan modal bagi peningkatan kualitas produksi dan standar mutu barang.  Sehingga, Indonesia pun dapat bersaing dalam peningkatan kualitas barang produksinya dengan produk-produk lain yang masuk ke pasar dalam negeri maupun luar negeri region ASEAN.
Referensi :

Kamis, 12 Desember 2013

ANALISIS TEORI PENAWARAN KERJA MENGENAI KURVA BACKWARD BENDING SUPPLY

PENAWARAN TENAGA KERJA


DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)


A..  Budget Line dan Alokasi Waktu

Keluarga sebagai satu unit pengambil keputusan yang memaksimumkan utility keluarga. Keputusan dan tingkat utility keluarga tersebut tergantung dari tingkat penghasilan keluarga, tingkat upah yang berlaku dan selera dari keluarga yang bersangkutan. Fungsi utility menunjukkan tingkat utility yang diperoleh keluarga sehubungan dengan konsumsi barang dan menikmati waktu senggang. Misalkan waktu yang tersedia buat keluarga untuk keperluan bekerja dan waktu senggang sebesar OH jam. Dengan pendapatan diluar pekerjaan sebesar OA=HB (misalnya sewa, devisa, dan transfer). Bila seluruh waktu yang tersedia OH digunakan waktu senggang maka pendapatan keluarga tersebut hanya OA=HB dengan tingkat utility keluarga U1. Bila keluarga tersebut menggunakan seluruh waktu yang tersedia untuk bekerja maka jumlah barang konsumsi adalah OC dengan tingkat utility U2. Tingkat utility maksimum dapat dicapai bila fungsi utility U3 menyinggung budget line di titik E. OD menunjukkan jumlah waktu yang dipergunakan untuk waktu senggang sedangkan HD merupakan waktu yang dipergunakan untuk bekerja.    
B.  Kurva Penawaran Tenaga Kerja
            Kurva penawaran tenaga kerja yaitu hubungan antara jam kerja dan tingkat upah. Misalkan seseorang akan memasuki pasar kerja jika upah yang ditawarkan melebihi dari upah reservasi (ลต). Pada tingkat upah diatas upah reservasi, kurva penawaran tenaga kerja memiliki slope positif sampai pada titik tertentu. Keadaan selanjutnya akan berubah jika seseorang kesejahteraannya sudah baik atau mempunyai suatu keahlian yang lebih dan jumlah jam kerja yang ditawarkan semakin berkurang pada saat upah meningkat yang mengakibatkan slope kurva penawaran tenaga kerja menjadi negatif. Kurva ini disebut kurva penawaran tenaga kerja melengkung ke belakang (backward bending labour supply curve).
Jumlah tenaga kerja keseluruhan yang disediakan bagi suatu perekonomian tergantung pada jumlah penduduk, persentase jumlah penduduk yang memilih masuk dalam angkatan kerja, dan jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Lebih lanjut, masing-masing dari ketiga komponen dari jumlah tenaga kerja keseluruhan yang ditawarkan tergantung pada upah pasar. Jangka pendek dalam penawaran tenaga kerja yaitu jangka waktu dimana individu dalam penduduk yang telah tertentu jumlahnya tidak dapat mengubah jumlah modal manusia. Sehingga asumsi yang digunakan ketrampilan dari individu telah tertentu. Selanjutnya, menutup kemungkinan terhadap penyesuaian-penyesuaian yang lain, seperti migrasi yang memungkinkan individu dapat melakukan perubahan upah. Sedangkan jangka panjang dalam penawaran tenaga kerja yaitu penyesuaian yang dilakukan individu untuk memaksimalkan utilitas dalam jumlah tenaga kerja yang mereka sediakan apabila kendala upah pasar dan pendapatan mengalami perubahan. Suatu penyesuaian akan bersifat jangka panjang dalam perubahan-perubahan partisipasi tenaga kerja. Terutama terdapat penambahan yang besar dalam tingkat partisipasi angkatan kerja di kalangan wanita yang telah menikah dan penurunan dalam tingkat partisipasi kaum pekerja yang berusia lanjut, berusia anak-anak, dan berusia lebih muda. Penyesuaian lainnya ialah dalam bentuk jumlah penduduk. Suatu analisis jangka panjang tentang penawaran tenaga kerja menjajaki hubungan antara kesuburan (fertilitas) dan perubahan jangka panjang dalam upah pasar pendapatan.
Penawaran tenaga kerja di suatu daerah merupakan penjumlahan penawaran dari tiap-tiap keluarga dalam suatu daerah. Misalkan dalam suatu daerah tertentu terdapat hanya tiga keluarga, A, B, C dengan masing-masing kurva penawaran Sa, Sb, Sc. Pada tingkat upah W1, tidak ada keluarga yang menawarkan jasanya untuk bekerja sehingga penawaran tenaga kerja di daerah tersebut menjadi nol. Untuk tingkat upah W2, keluarga A menawarkan W2A, keluarga B menawarkan W2B dan keluarga C menawarkan nol. Untuk daerah tersebut, penawaran tenaga kerja adalah W2B’ yaitu W2A’ (yang sama dengan W2A) ditambah dengan A’B’ (yang sama dengan W2B). Pada tingkat upah W3, keluarga A menawarkan W3C, keluarga B menawarkan W3D, dan keluarga C menawarkan W3E. Penawaran untuk daerah tersebut adalah W3E’ yaitu penjumlahan W3C’ (yang sama dengan W3C), C’D’ (yang sama dengan W3D) dan D’E’ (yang sama dengan W3E). Penawaran tenaga kerja untuk daerah ini Sn merupakan fungsi dari tingkat upah.


C. Elastisitas Penawaran Tenaga Kerja

            Elastisitas penawaran tenaga kerja menunjukkan persentase perubahan jam kerja yang disebabkan oleh satu persen perubahan tingkat upah.
 Contoh:
Upah pekerja awalnya adalah $10 per jam dan dia bekerja 1920 jam per tahun. Kemudian pekerja tersebut mendapatkan kenaikan upah sebesar $20 per jam dan dia memutuskan bekerja selama 2040 jam per tahun. Berapa elastisitas penawaran tenaga kerja?

Elastisitas penawaran tenaga kerja diatas bersifat inelastis karena besarnya elastisitas penawaran tenaga kerja kurang dari 1 (dalam nilai absolut). Artinya jika ada kenaikan tingkat upah sebesar dua kali lipatnya (100%) menyebabkan kenaikan penawaran tenaga kerja sebesar 6,25%.



D.Teori Kurva Backward Bending Supply
            Pasokan tenaga kerja dapat dilihat melalui tiga skala yang berbeda, yaitu skala individu, skala industri dan ekonomi. Model simulasi Kurva Backward Bending Supply ini berfokus pada skala individu. Selain itu, Kurva Backward Bending Supply dapat digunakan dengan empat asumsi, yaitu:
Pertama, pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri. Terkait dengan asumsi bahwa para pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri, para pekerja dengan leluasa dapat memilih jumlah jam kerja mereka serta jumlah waktu luang mereka. Kedua, pekerja yang ada merupakan homogen. Terkait dengan asumsi pekerja yang ada merupakan homogen. Ketiga, tidak ada keterikatan kontrak, terkait dengan asumsi bahwa tidak ada keterikatan kontrak, para pekerja dalam hal ini tidak memiliki keterikatan kontrak dengan perusahaan.Keempat, para pekerja berusaha untuk meningkatkan utilitasnya. Terkait tentang asumsi bahwa setiap individu tentu akan berusaha untuk memaksimalkan utilitas mereka dalam jumlah tetap jam kerja (24 jam sehari, 365 hari setahun). Ini berarti, ada trade off (biaya kesempatan) antara berapa jam seseorang bekerja dan jumlah jam yang dihabiskan pada waktu luang. Hal ini juga diasumsikan bahwa bekerja merupakan barang inferior. Kunci untuk memahami prinsip ini adalah tentang konsep utilitas. Utilitas adalah tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
            Dengan asumsi selera (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunujukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
            Slope kurva IC menunjukkan laju subtitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).
            Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
            Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah. Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slopenya berubah.
            Misalnya, jika konsumen berada dalam keseimbangan, maka utilitas mereka membeli barang-barang dengan pendapatan yang mereka peroleh dalam satu jam terakhir akan sama dengan utilitas mereka ketika memperoleh keuntungan dari waktu luang satu jam terakhir.
            Jika upah riil meningkat dari W1 ke W2 kemudian karena penghasilan yang lebih tinggi individu akan memiliki utilitas yang lebih besar, maka mereka akan bersedia untuk meningkatkan jam kerja per tahun untuk L2. Selam bagian ini kurva efek substitusi adalah positif, efek pendapatan negatif, tetapi efek substitusi lebih besar daripada efek pendapatan. Oleh karena itu, kenaikan tingkat upah riil akan menyebabkan peningkatkan jumlah jam kerja.
            Namun, jika upah riil meningkat dari W2 ke W3, maka jumlah jam kerja per tahun akan jatuh dari L2 ke L3. Hal ini karena efek pendapatan lebih besar dari efek substitusi. Proses yang terlibat dalam keputusan untuk bekerja lebih atau kurang jam disebut pendapatan dan efek substitusi.
            Upah yang lebih tinggi berarti bahwa individu dapat bekerja dengan waktu yang lebih sedikit untuk mempertahankan pola-pola konsumsi yang sama antara barang dan jasa. Oleh karena itu, efek pendapatan akan berarti bahwa seseorang individu akan bekerja dengan waktu yang lebih sedikit. Namun, efek subtitusi adalah bahwa upah lebih tinggi akan berarti utilitas yang diperoleh dari kerja jam terakhir lebih besar daripada utilitas yang diperoleh dari satu jam waktu luang. Hal ini karena upah yang lebih tinggi berarti seseorang dapat membeli lebih banyak barang. Akibatnya, individu akan bekerja sebagai pengganti dari waktu luang sampai utilitas yang sama (yaitu konsumen kembali dalam keseimbangan antara pekerjaan dan waktu senggang).
            Isu yang menarik adalah bahwa individu memiliki karakteristik utilitas yang berbeda. Maka tingkat trade off antara utilitas dari satu jam bekerja dan utilitas dari satu jam bersantai akan berbeda. Ini menunjukkan bahwa elastisitas substitusi antara waktu luang dan konsumsi akan bervariasi. Kemungkinan bahwa keluarga berpenghasilan rendah akan cenderung kurang responsif terhadap perubahan upah daripada kelompok berpenghasilan lebih tinggi karena tingginya efek substitusi.




DAFTAR PUSTAKA :
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4319/isimt1A_2.htm
PENAWARAN TENAGA KERJA


DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)


A..  Budget Line dan Alokasi Waktu

Keluarga sebagai satu unit pengambil keputusan yang memaksimumkan utility keluarga. Keputusan dan tingkat utility keluarga tersebut tergantung dari tingkat penghasilan keluarga, tingkat upah yang berlaku dan selera dari keluarga yang bersangkutan. Fungsi utility menunjukkan tingkat utility yang diperoleh keluarga sehubungan dengan konsumsi barang dan menikmati waktu senggang. Misalkan waktu yang tersedia buat keluarga untuk keperluan bekerja dan waktu senggang sebesar OH jam. Dengan pendapatan diluar pekerjaan sebesar OA=HB (misalnya sewa, devisa, dan transfer). Bila seluruh waktu yang tersedia OH digunakan waktu senggang maka pendapatan keluarga tersebut hanya OA=HB dengan tingkat utility keluarga U1. Bila keluarga tersebut menggunakan seluruh waktu yang tersedia untuk bekerja maka jumlah barang konsumsi adalah OC dengan tingkat utility U2. Tingkat utility maksimum dapat dicapai bila fungsi utility U3 menyinggung budget line di titik E. OD menunjukkan jumlah waktu yang dipergunakan untuk waktu senggang sedangkan HD merupakan waktu yang dipergunakan untuk bekerja.    
B.  Kurva Penawaran Tenaga Kerja
            Kurva penawaran tenaga kerja yaitu hubungan antara jam kerja dan tingkat upah. Misalkan seseorang akan memasuki pasar kerja jika upah yang ditawarkan melebihi dari upah reservasi (ลต). Pada tingkat upah diatas upah reservasi, kurva penawaran tenaga kerja memiliki slope positif sampai pada titik tertentu. Keadaan selanjutnya akan berubah jika seseorang kesejahteraannya sudah baik atau mempunyai suatu keahlian yang lebih dan jumlah jam kerja yang ditawarkan semakin berkurang pada saat upah meningkat yang mengakibatkan slope kurva penawaran tenaga kerja menjadi negatif. Kurva ini disebut kurva penawaran tenaga kerja melengkung ke belakang (backward bending labour supply curve).
Jumlah tenaga kerja keseluruhan yang disediakan bagi suatu perekonomian tergantung pada jumlah penduduk, persentase jumlah penduduk yang memilih masuk dalam angkatan kerja, dan jumlah jam kerja yang ditawarkan oleh angkatan kerja. Lebih lanjut, masing-masing dari ketiga komponen dari jumlah tenaga kerja keseluruhan yang ditawarkan tergantung pada upah pasar. Jangka pendek dalam penawaran tenaga kerja yaitu jangka waktu dimana individu dalam penduduk yang telah tertentu jumlahnya tidak dapat mengubah jumlah modal manusia. Sehingga asumsi yang digunakan ketrampilan dari individu telah tertentu. Selanjutnya, menutup kemungkinan terhadap penyesuaian-penyesuaian yang lain, seperti migrasi yang memungkinkan individu dapat melakukan perubahan upah. Sedangkan jangka panjang dalam penawaran tenaga kerja yaitu penyesuaian yang dilakukan individu untuk memaksimalkan utilitas dalam jumlah tenaga kerja yang mereka sediakan apabila kendala upah pasar dan pendapatan mengalami perubahan. Suatu penyesuaian akan bersifat jangka panjang dalam perubahan-perubahan partisipasi tenaga kerja. Terutama terdapat penambahan yang besar dalam tingkat partisipasi angkatan kerja di kalangan wanita yang telah menikah dan penurunan dalam tingkat partisipasi kaum pekerja yang berusia lanjut, berusia anak-anak, dan berusia lebih muda. Penyesuaian lainnya ialah dalam bentuk jumlah penduduk. Suatu analisis jangka panjang tentang penawaran tenaga kerja menjajaki hubungan antara kesuburan (fertilitas) dan perubahan jangka panjang dalam upah pasar pendapatan.
Penawaran tenaga kerja di suatu daerah merupakan penjumlahan penawaran dari tiap-tiap keluarga dalam suatu daerah. Misalkan dalam suatu daerah tertentu terdapat hanya tiga keluarga, A, B, C dengan masing-masing kurva penawaran Sa, Sb, Sc. Pada tingkat upah W1, tidak ada keluarga yang menawarkan jasanya untuk bekerja sehingga penawaran tenaga kerja di daerah tersebut menjadi nol. Untuk tingkat upah W2, keluarga A menawarkan W2A, keluarga B menawarkan W2B dan keluarga C menawarkan nol. Untuk daerah tersebut, penawaran tenaga kerja adalah W2B’ yaitu W2A’ (yang sama dengan W2A) ditambah dengan A’B’ (yang sama dengan W2B). Pada tingkat upah W3, keluarga A menawarkan W3C, keluarga B menawarkan W3D, dan keluarga C menawarkan W3E. Penawaran untuk daerah tersebut adalah W3E’ yaitu penjumlahan W3C’ (yang sama dengan W3C), C’D’ (yang sama dengan W3D) dan D’E’ (yang sama dengan W3E). Penawaran tenaga kerja untuk daerah ini Sn merupakan fungsi dari tingkat upah.


C. Elastisitas Penawaran Tenaga Kerja

            Elastisitas penawaran tenaga kerja menunjukkan persentase perubahan jam kerja yang disebabkan oleh satu persen perubahan tingkat upah.
 Contoh:
Upah pekerja awalnya adalah $10 per jam dan dia bekerja 1920 jam per tahun. Kemudian pekerja tersebut mendapatkan kenaikan upah sebesar $20 per jam dan dia memutuskan bekerja selama 2040 jam per tahun. Berapa elastisitas penawaran tenaga kerja?

Elastisitas penawaran tenaga kerja diatas bersifat inelastis karena besarnya elastisitas penawaran tenaga kerja kurang dari 1 (dalam nilai absolut). Artinya jika ada kenaikan tingkat upah sebesar dua kali lipatnya (100%) menyebabkan kenaikan penawaran tenaga kerja sebesar 6,25%.



D.Teori Kurva Backward Bending Supply
            Pasokan tenaga kerja dapat dilihat melalui tiga skala yang berbeda, yaitu skala individu, skala industri dan ekonomi. Model simulasi Kurva Backward Bending Supply ini berfokus pada skala individu. Selain itu, Kurva Backward Bending Supply dapat digunakan dengan empat asumsi, yaitu:
Pertama, pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri. Terkait dengan asumsi bahwa para pekerja memilih waktu bekerja mereka sendiri, para pekerja dengan leluasa dapat memilih jumlah jam kerja mereka serta jumlah waktu luang mereka. Kedua, pekerja yang ada merupakan homogen. Terkait dengan asumsi pekerja yang ada merupakan homogen. Ketiga, tidak ada keterikatan kontrak, terkait dengan asumsi bahwa tidak ada keterikatan kontrak, para pekerja dalam hal ini tidak memiliki keterikatan kontrak dengan perusahaan.Keempat, para pekerja berusaha untuk meningkatkan utilitasnya. Terkait tentang asumsi bahwa setiap individu tentu akan berusaha untuk memaksimalkan utilitas mereka dalam jumlah tetap jam kerja (24 jam sehari, 365 hari setahun). Ini berarti, ada trade off (biaya kesempatan) antara berapa jam seseorang bekerja dan jumlah jam yang dihabiskan pada waktu luang. Hal ini juga diasumsikan bahwa bekerja merupakan barang inferior. Kunci untuk memahami prinsip ini adalah tentang konsep utilitas. Utilitas adalah tingkat kemampuan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan manusia. Apabila konsumen mengonsumsi barang dalam jumlah yang semakin banyak maka kepuasan totalnya (TU) semakin meningkat namun tambahan kepuasannya (MU) semakin menurun. Masing-masing unit tambahan output yang dikonsumsi akan menambah kepuasan dengan jumlah yang semakin rendah.
            Dengan asumsi selera (tastes) dan preferensi tertentu maka dapat dilukiskan dalam kurva indeferen (IC). Kurva indeferen menunjukkan berbagai kombinasi barang X dan Y yang memberikan kepuasan total yang sama. Kurva IC yang terletak semakin jauh dari titik 0 menunujukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
            Slope kurva IC menunjukkan laju subtitusi marjinal (Marginal Rate of Substitution, MRS), yang menunjukkan berapa banyak seseorang bersedia mengurangi konsumsi suatu barang untuk ditukar dengan barang lain supaya tingkat kepuasannya tetap (masih berada dalam kurva indeferen yang sama).
            Garis anggaran menunjukkan batas jumlah barang-barang yang dapat dibeli konsumen dalam periode waktu tertentu dan ditentukan oleh tingkat harga dan tingkat pendapatan yang dimiliki. Biasa disebut kendala anggaran (budget constraint).
            Kenaikan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kanan, sejajar dengan garis anggaran semula (karena harga barang X dan Y tidak berubah). Penurunan pendapatan menyebabkan garis anggaran bergeser ke kiri. Kenaikan pendapatan tidak membuat slope garis anggaran berubah. Apabila harga salah satu barang berubah maka garis anggaran akan berotasi, sedangkan slopenya berubah.
            Misalnya, jika konsumen berada dalam keseimbangan, maka utilitas mereka membeli barang-barang dengan pendapatan yang mereka peroleh dalam satu jam terakhir akan sama dengan utilitas mereka ketika memperoleh keuntungan dari waktu luang satu jam terakhir.
            Jika upah riil meningkat dari W1 ke W2 kemudian karena penghasilan yang lebih tinggi individu akan memiliki utilitas yang lebih besar, maka mereka akan bersedia untuk meningkatkan jam kerja per tahun untuk L2. Selam bagian ini kurva efek substitusi adalah positif, efek pendapatan negatif, tetapi efek substitusi lebih besar daripada efek pendapatan. Oleh karena itu, kenaikan tingkat upah riil akan menyebabkan peningkatkan jumlah jam kerja.
            Namun, jika upah riil meningkat dari W2 ke W3, maka jumlah jam kerja per tahun akan jatuh dari L2 ke L3. Hal ini karena efek pendapatan lebih besar dari efek substitusi. Proses yang terlibat dalam keputusan untuk bekerja lebih atau kurang jam disebut pendapatan dan efek substitusi.
            Upah yang lebih tinggi berarti bahwa individu dapat bekerja dengan waktu yang lebih sedikit untuk mempertahankan pola-pola konsumsi yang sama antara barang dan jasa. Oleh karena itu, efek pendapatan akan berarti bahwa seseorang individu akan bekerja dengan waktu yang lebih sedikit. Namun, efek subtitusi adalah bahwa upah lebih tinggi akan berarti utilitas yang diperoleh dari kerja jam terakhir lebih besar daripada utilitas yang diperoleh dari satu jam waktu luang. Hal ini karena upah yang lebih tinggi berarti seseorang dapat membeli lebih banyak barang. Akibatnya, individu akan bekerja sebagai pengganti dari waktu luang sampai utilitas yang sama (yaitu konsumen kembali dalam keseimbangan antara pekerjaan dan waktu senggang).
            Isu yang menarik adalah bahwa individu memiliki karakteristik utilitas yang berbeda. Maka tingkat trade off antara utilitas dari satu jam bekerja dan utilitas dari satu jam bersantai akan berbeda. Ini menunjukkan bahwa elastisitas substitusi antara waktu luang dan konsumsi akan bervariasi. Kemungkinan bahwa keluarga berpenghasilan rendah akan cenderung kurang responsif terhadap perubahan upah daripada kelompok berpenghasilan lebih tinggi karena tingginya efek substitusi.




DAFTAR PUSTAKA :
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4319/isimt1A_2.htm

ANALISIS FLOW DAN LEAKAGE DALAM ALIRAN EKONOMI

ANALISIS  FLOW DAN LEAKAGE DALAM ALIRAN EKONOMI



DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)


Aliran melingkar merupakan satu model sederhana untuk menganalisis kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi). Model aliran melingkar sebagai salah satu alat/instrumen bagi sarjana ekonomi untuk menentukan bagaimana kegiatan ekonomi itu berjalan di dalam situasi/kondisi tertentu. Model ini diibaratkan sebagai stethoscope bagi seorang dokter, yakni sebagai salah satu alat untuk mendeteksi penyakit, bukan obat untuk mengobati si sakit, tetapi membantu dokter untuk memperkirakan jenis penyakitnya. Bagi sarjana ekonomi, model aliran melingkar dapat membantu memperkirakan kegiatan ekonomi yang bakal terjadi sebagai akibat sesuatu kebijakan.
       Setiap orang adalah konsumen, meski bayi sekalipun tetap mempunyai kebutuhan untuk dipenuhi. Namun demikian tidak setiap konsumen merupakan produsen, seperti halnya bayi atau orang yang sudah tua sekali (pensiunan). Oleh karena itu produsen tidak hanya menghasilkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang tidak dapat menghasilkan barang kebutuhannya.

Model sederhana kegiatan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar di atas untuk menjelaskan aliran secara terus-menerus barang dan jasa serta pembayaran uangnya. Ada dua pelaku kegiatan ekonomi, yaitu konsumen (rumah tangga) serta produsen (pengusaha).
Konsumen menyediakan faktor produksi (seperti: tenaga kerja, modal, tanah dan enterpreneur) kepada produsen. Produsen mengkombinasikan faktor-faktor produksi tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa. Barang dan jasa ini dijual kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai imbalan dari penyerahan faktor produksi tersebut, produsen membayar harganya berupa upah, bunga, sewa dan keuntungan. Kesemuanya merupakan pendapatan bagi konsumen (pemilik faktor produksi). Dengan pendapatan ini konsumen dapat membayar/ membeli barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen. Dengan demikian terdapat aliran yang terus menerus barang dan jasa serta pembayaran uang.

DAMPAK TABUNGAN DAN INVESTASI

Tabungan adalah bagian dari pendapatan konsumen yang tidak dibelanjakan/ digunakan untuk konsumsi. Pendapatan yang disisihkan adalah pendapatan saat ini (current income) bukan pendapatan masa lalu yang disisihkan. Dalam analisis diagram melingkar digunakan konsep aliran (flow) pendapatan atau konsumsi, bukan akumulasi barang dan uang. Diagram aliran melingkar dengan memperhatikan adanya tabungan dapat digambarkan sebagai berikut:




Keterangan :
C    =     Pengeluaran konsumen
Y    =     Pembayaran faktor produksi

Biasanya untuk pendapatan dinyatakan dengan simbol huruf Y. Dari gambar diatas terlihat bahwa hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan dapat dituliskan sebagai  Y = C + S . Dengan adanya tabungan berarti pengusaha membayar kepada konsumen untuk pembelian faktor produksi (Y) lebih besar daripada yang diterima dari konsumen untuk pembelian barang dan jasa (C). Dengan kata lain biaya pembelian faktor produksi lebih besar dari hasil penjualan barang, sehingga ada sebagian barang yang tidak terjual (ada persediaan barang). Untuk menghadapi keadaan ini produsen dapat melakukan dua hal, yaitu :

a.    menurunkan harga atau
b.    mengurangi produksi sampai sejumlah yang dibeli oleh konsumen.

Apabila alternatif pertama yang diambil, diharapkan konsumen membeli lebih banyak sehingga kelebihan produksi dapat terjual. Kadangkala produsen menderita penurunan keuntungan dengan penurunan harga tersebut. Karena keuntungan (dividend) termasuk di dalam pendapatan (Y), maka pendapatan akan mengalami penurunan. Apabila alternatif yang kedua (mengurangi produksi) yang dipilih, maka produsen akan mengurangi pembelian faktor produksi. Tindakan ini akan mengurangi pendapatan konsumen. Dengan demikian apakah tindakan yang pertama atau kedua, semuanya akan mengakibatkan penurunan pendapatan (Y).
Penurunan pendapatan ini akan berjalan terus sampai pendapatan (Y) = konsumsi (C), yakni tabungan (S) kembali sama dengan nol.
Dan analisis di atas nampaknya tabungan menyebabkan kontraksi kegiatan ekonomi. Tetapi di dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Konsumen tidak menabung uangnya di dalam almari atau di bawah bantal (kalau mereka melakukan hal yang demikian namanya bukan saving tetapi hoarding). Dengan adanya lembaga keuangan (bank misalnya) konsumen menabung uangnya di sana, yang kemudian oleh bank dipinjamkan kepada produsen untuk investasi. Pengertian investasi adalah pembelian barang modal, yakni barang yang dipakai untuk menghasilkan barang lain. Kenaikan investasi dapat mendorong kenaikan pendapatan. Proses kenaikan pendapatan sebagai akibat kenaikan investasi (proses multiplier). Apabila tabungan (S) merupakan kebocoran (leakage) dari aliran melingkar, maka investasi (I) merupakan injeksi ke dalam aliran (flow) melingkar tersebut. Peranan investasi dalam aliran melingkar dapat digambarkan sebagai berikut :



Keterangan :
C    =     Pengeluaran konsumen
Y    =     Pembayaran faktor produksi
Injeksi dana investasi memungkinkan produsen menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak. Untuk itu dia akan membeli faktor produksi yang lebih banyak juga. Sebagai hasilnya pendapatan yang diterima oleh konsumen meningkat. Kenaikan pendapatan konsumen tersebut akan mendorong mereka menambah konsumsi, tabungan atau keduanya. Posisi keseimbangan akan tercapai manakala besarnya injeksi (investasi) sama dengan kebocoran (tabungan).
Hal ini terjadi pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Tentu saja kenaikan pendapatan tersebut terealisir apabila masih ada faktor produksi yang belum digunakan sepenuhnya (masih menganggur). Jika tidak ada faktor produksi yang menanggur, tambahan investasi akan mengakibatkan kenaikan harga saja (inflasi).
Hubungan antara tabungan dan investasi adalah sebagai berikut. Apabila tabungan lebih besar daripada investasi maka dampaknya akan menurunkan pendapatan, sebaliknya apabila investasi lebih besar dan tabungan kegiatan ekonomi cenderung meningkat. Keseimbangan ekonomi akan terjadi apabila tabungan sama dengan investasi.


ANALISIS  FLOW DAN LEAKAGE DALAM ALIRAN EKONOMI



DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)


Aliran melingkar merupakan satu model sederhana untuk menganalisis kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi). Model aliran melingkar sebagai salah satu alat/instrumen bagi sarjana ekonomi untuk menentukan bagaimana kegiatan ekonomi itu berjalan di dalam situasi/kondisi tertentu. Model ini diibaratkan sebagai stethoscope bagi seorang dokter, yakni sebagai salah satu alat untuk mendeteksi penyakit, bukan obat untuk mengobati si sakit, tetapi membantu dokter untuk memperkirakan jenis penyakitnya. Bagi sarjana ekonomi, model aliran melingkar dapat membantu memperkirakan kegiatan ekonomi yang bakal terjadi sebagai akibat sesuatu kebijakan.
       Setiap orang adalah konsumen, meski bayi sekalipun tetap mempunyai kebutuhan untuk dipenuhi. Namun demikian tidak setiap konsumen merupakan produsen, seperti halnya bayi atau orang yang sudah tua sekali (pensiunan). Oleh karena itu produsen tidak hanya menghasilkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang tidak dapat menghasilkan barang kebutuhannya.

Model sederhana kegiatan ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar di atas untuk menjelaskan aliran secara terus-menerus barang dan jasa serta pembayaran uangnya. Ada dua pelaku kegiatan ekonomi, yaitu konsumen (rumah tangga) serta produsen (pengusaha).
Konsumen menyediakan faktor produksi (seperti: tenaga kerja, modal, tanah dan enterpreneur) kepada produsen. Produsen mengkombinasikan faktor-faktor produksi tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa. Barang dan jasa ini dijual kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai imbalan dari penyerahan faktor produksi tersebut, produsen membayar harganya berupa upah, bunga, sewa dan keuntungan. Kesemuanya merupakan pendapatan bagi konsumen (pemilik faktor produksi). Dengan pendapatan ini konsumen dapat membayar/ membeli barang dan jasa yang dihasilkan oleh produsen. Dengan demikian terdapat aliran yang terus menerus barang dan jasa serta pembayaran uang.

DAMPAK TABUNGAN DAN INVESTASI

Tabungan adalah bagian dari pendapatan konsumen yang tidak dibelanjakan/ digunakan untuk konsumsi. Pendapatan yang disisihkan adalah pendapatan saat ini (current income) bukan pendapatan masa lalu yang disisihkan. Dalam analisis diagram melingkar digunakan konsep aliran (flow) pendapatan atau konsumsi, bukan akumulasi barang dan uang. Diagram aliran melingkar dengan memperhatikan adanya tabungan dapat digambarkan sebagai berikut:




Keterangan :
C    =     Pengeluaran konsumen
Y    =     Pembayaran faktor produksi

Biasanya untuk pendapatan dinyatakan dengan simbol huruf Y. Dari gambar diatas terlihat bahwa hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan dapat dituliskan sebagai  Y = C + S . Dengan adanya tabungan berarti pengusaha membayar kepada konsumen untuk pembelian faktor produksi (Y) lebih besar daripada yang diterima dari konsumen untuk pembelian barang dan jasa (C). Dengan kata lain biaya pembelian faktor produksi lebih besar dari hasil penjualan barang, sehingga ada sebagian barang yang tidak terjual (ada persediaan barang). Untuk menghadapi keadaan ini produsen dapat melakukan dua hal, yaitu :

a.    menurunkan harga atau
b.    mengurangi produksi sampai sejumlah yang dibeli oleh konsumen.

Apabila alternatif pertama yang diambil, diharapkan konsumen membeli lebih banyak sehingga kelebihan produksi dapat terjual. Kadangkala produsen menderita penurunan keuntungan dengan penurunan harga tersebut. Karena keuntungan (dividend) termasuk di dalam pendapatan (Y), maka pendapatan akan mengalami penurunan. Apabila alternatif yang kedua (mengurangi produksi) yang dipilih, maka produsen akan mengurangi pembelian faktor produksi. Tindakan ini akan mengurangi pendapatan konsumen. Dengan demikian apakah tindakan yang pertama atau kedua, semuanya akan mengakibatkan penurunan pendapatan (Y).
Penurunan pendapatan ini akan berjalan terus sampai pendapatan (Y) = konsumsi (C), yakni tabungan (S) kembali sama dengan nol.
Dan analisis di atas nampaknya tabungan menyebabkan kontraksi kegiatan ekonomi. Tetapi di dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Konsumen tidak menabung uangnya di dalam almari atau di bawah bantal (kalau mereka melakukan hal yang demikian namanya bukan saving tetapi hoarding). Dengan adanya lembaga keuangan (bank misalnya) konsumen menabung uangnya di sana, yang kemudian oleh bank dipinjamkan kepada produsen untuk investasi. Pengertian investasi adalah pembelian barang modal, yakni barang yang dipakai untuk menghasilkan barang lain. Kenaikan investasi dapat mendorong kenaikan pendapatan. Proses kenaikan pendapatan sebagai akibat kenaikan investasi (proses multiplier). Apabila tabungan (S) merupakan kebocoran (leakage) dari aliran melingkar, maka investasi (I) merupakan injeksi ke dalam aliran (flow) melingkar tersebut. Peranan investasi dalam aliran melingkar dapat digambarkan sebagai berikut :



Keterangan :
C    =     Pengeluaran konsumen
Y    =     Pembayaran faktor produksi
Injeksi dana investasi memungkinkan produsen menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak. Untuk itu dia akan membeli faktor produksi yang lebih banyak juga. Sebagai hasilnya pendapatan yang diterima oleh konsumen meningkat. Kenaikan pendapatan konsumen tersebut akan mendorong mereka menambah konsumsi, tabungan atau keduanya. Posisi keseimbangan akan tercapai manakala besarnya injeksi (investasi) sama dengan kebocoran (tabungan).
Hal ini terjadi pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Tentu saja kenaikan pendapatan tersebut terealisir apabila masih ada faktor produksi yang belum digunakan sepenuhnya (masih menganggur). Jika tidak ada faktor produksi yang menanggur, tambahan investasi akan mengakibatkan kenaikan harga saja (inflasi).
Hubungan antara tabungan dan investasi adalah sebagai berikut. Apabila tabungan lebih besar daripada investasi maka dampaknya akan menurunkan pendapatan, sebaliknya apabila investasi lebih besar dan tabungan kegiatan ekonomi cenderung meningkat. Keseimbangan ekonomi akan terjadi apabila tabungan sama dengan investasi.


KESEIMBANGAN EKONOMI EMPAT SEKTOR

KESEIMBANGAN EKONOMI EMPAT SEKTOR


DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor merupakan suatu negara yang mempunyai hubungan ekonomi dengan negara – negara lain. Dalam perekonomian terbuka sebagian produksi dalam negeri diekspor atau dijual ke luar negeri dan disamping itu terdapat pula barang di negara itu yang diimpor dari negara – negara lain. Perekonomian terbuka dinakan juga sebagai ekonomi empat sektor, yaitu suatu ekonomi yang dibedakan kepada empat sektor yaitu :
1.      Rumah tangga
2.      Perusahaan
3.      Pemerintah dan,
4.      Sektor luar negeri.

Model perekonomian selanjutnya adalah yang paling sesuai dengan kenyataan, yaitu bentuk perekonomian terbuka. Ciri perekonomian terbuka adalah adanya kegiatan masyarakat luar negeri dalam bentuk ekspor impor dan pertukaran faktor produksi. Kegiatan ekspor dan impor itu kemudian memunculkan istilah perdagangan internasional. Untuk mengukur seberapa besar nilai ekspor atau impor dapat diketahui dengan melihat neraca perdagangannya. Hasil dari perdagangan internasional itu berupa devisa. Apabila neraca perdagangan suatu negara itu defisit, berarti impor negara tersebut lebih besar dibanding ekspornya. Sebaliknya, suatu negara disebut surplus pada neraca perdagangan bila ekspor lebih besar dari impornya.

Dalam perekonomian empat sektor kita akan melihat dua kelompok pelaku ekonomi, yaitu masyarakat luar negeri dan pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri. Dalam masyarakat luar negeri terdapat rumah tangga konsumsi, perusahaan (rumah tangga produksi), dan pemerintah. Kegiatan kelompok pelaku ekonomi masyarakat luar negeri tersebut membentuk sistem arus perputaran kegiatan ekonomi. Kelompok pelaku ekonomi dalam negeri juga membentuk sistem perputaran kegiatan ekonomi. Jadi, masyarakat luar negeri maupun pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri terdiri atas rumah tangga konsumsi, perusahaan (rumah tangga produksi), dan pemerintah. Mereka saling berinteraksi, sehingga membentuk sistem perputaran faktor produksi, barang dan jasa, serta uang antara masyarakat luar negeri dengan pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri.
Diagram aliran interaksi perekonomian empat sektor dijelaskan dalam Bagan 2.3. Perhatikan Bagan 2.3 berikut.



Dari Bagan 2.1, Bagan 2.2, dan Bagan 2.3 dapat dilihat perbedaan interaksi antarpelaku ekonomi dalam perekonomian sederhana (Bagan 2.1), perekonomian tertutup (Bagan 2.2), dan perekonomian terbuka (Bagan 2.3). Hampir semua negara di dunia pada saat ini melakukan interaksi dengan negara lain, sehingga interaksi ekonomi juga melibatkan sektor luar negeri. Sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah merupakan perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy) jika tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Adapun perekonomian suatu negara dikatakan terbuka (open economy) apabila terjadi interaksi dengan sektor luar negeri yang ditandai dengan adanya mekanisme ekspor dan impor. Ekspor merupakan aliran pendapatan dari perekonomian luar negeri ke perekonomian domestik. Adapun impor merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestik ke perekonomian luar negeri.





Model perekonomian yang meliputi kegiatan ekspor dan impor dinamakan perekonomian 4 sektor atau perekonomian terbuka. Dalam model ini ada 2 aliran baru di dalam sirkulasi aliran pendapatan :

1.      aliran pendapatan yang diterima dari mengekspor yang merupakan suntikan kepada aliran pendapatan.
2.      aliran pengeluaran untuk membeli barang yang diimpor dari negara-negara lain yang merupakan bocoran kepada aliran pendapatan.
      
 Keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka. Aspek terakhir ini adalah mutiplier dalam perekonomian terbuka.

1.    Sirkulasi Aliran Pendapatan

Dalam perekonomian terbuka sektor-sektor ekonomi dibedakan kepada 4 golongan: perusahaan, RT, pemerintah, LN. penggunaan faktor-faktor produksi oleh sektor perusahaan akan mewujudkan aliran pendapatan ke sektor RT, berupa: gaji, upah, sewa, bunga, keuntungan ditujukan oleh aliran 1. Aliran pendapatan ini dikurangi pajak keuntungan perusahaan (aliran 2), tetapi belum dikurangi pajak pendapatan RT (aliran 3). RT dalam perekonomian menggunakan pendapatan mereka untuk transaksi sebagai berikut :

  1. membeli barang dan jasa yang diproduksi sektor perusahaan dan pengeluaran konsumsi sebagai konsumsi keatas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri atau Cdn (aliran 4).
  2. membayar pajak pendapatan kepada pemerintah, yaitu oleh aliran 3.
  3. mengimpor, yaitu membeli barang-barang yang yang diproduksi negara lain,  yaitu oleh aliran 5.
  4. menabung sisa pendapatan yang diperoleh kedalam lembaga keuangan, yaitu oleh aliran 6.

Gambar: 10.1.  Aliran-aliran Pendapatan Dalam Perekonomian Terbuka
Disamping itu aliran keluar untuk membayar impor mewujudkan aliran pengeluaran kesektor perusahaan, yaitu aliran oleh pembayaran keatas ekspor sektor perusahaan. Aliran pendapatan dari negara-negara luar oleh aliran 10. aliran 8 adalah pengeluaran pemerintah ke sektor perusahaan  untuk membeli barang-barang kebutuhan administrasi pemerintah dan barang modal untuk investasi pemerintah.

2.    Keseimbangan Pendapatan Nasional
Keseimbangan perekonomian terbuka terlebih dahulu diterangkan secara aljabar persamaan keseimbangan dalam perekonomian tersebut dan ciri-ciri fungsi ekspor dan impor.

Persamaan Keseimbangan
Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa diperjualbelikan terdiri dari yang diproduksikan di dalam negeri, yaitu pendapatan nasional dan yang diimpor dari  negara-negara lain. Dengan demikian dalam  perekonomian terbuka penawaran agregat (AE) terdiri dari pendapatan nasional (Y) dan impor (M). dalam persamaan:

AS = Y + M

Aliran pendapatan dalam perekonomian terbuka menunjukkan pengeluaran agregat keatas pendapatan nasional meliputi 4 komponen yaitu: konsumsi RT (Cdn), investasi perusahaan (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor (X). Maka pengeluaran agregat keatas produksi dalam negeri (AEdn) adalah :

AEdn = C dn + I + G + X

Dalam perekonomian terbuka perbelanjaan agregat (AE) meliputi perbelanjaan agregat keatas produksi dalam negeri dan pengeluaran impor, maka:

AE = AEdn + M
Atau



AE = Cdn + I + G + X + M

Konsumsi RT terdiri dari pengeluaran keatas produksi dalam  negeri (Cdn) dan pengeluaran keatas barang impor (M). Maka keseluruhan konsumsi RT (C) adalah:
C = Cdn  + M
Dengan menggantikan Cdn + M menjadi C, persamaan perbelanjaan agregat dapat dinyatakan dengan  persamaan:
AE = C + I + G + X
Perekonomian akan mencapai keseimbangan, apabila penawaran agregat sama dengan pengeluaran agregat. Dalam perekonomian terbuka keadaan keseimbangan tersebut adalah:
Y + M = C +  I + G + X
dimana Y + M adalah penawaran agregat dan C + I + G + X adalah pengeluaran agregat. persamaan itu disederhanakan menjadi:
dari persamaan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam perekonomian terbuka, keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila:

Y = C +  I + G + ( X – M)

Keseimbangan menurut pendekatan penawaran agregat permintaan agregat. Dalam pendekatan suntikan – bocoran, keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai apabila : S + T + M = I + G + X.

Syarat keseimbangan ini dibuktikan dalam uraian berikut. Aliran pendapatan yang diwujudkan dari kegiatan memproduksi pendapatan nasional akan digunakan sebagai berikut :

1.      Membiayai pengeluaran konsumsi keatas barang buatan dalam negeri (Cdn) dan barang impor (M). Maka keseluruhan pengeluaran konsumsi adalah: C = Cdn + M
2.      Membayar pajak (T), yaitu pajak keuntungan perusahaan dan pajak pendapatan RT.
3.      Menyisihkan pendapatan untuk ditabung (S) dilembaga keuangan.


Ditinjau dari segi pendapatan,  pendapatan nasional dapat dihitung, dengan formula berikut:
            Y   = Cdn  + M + S + T
Oleh karena : C   = Cdn  + M
maka             : Y   = C + S + T

menurut pendekatan penawaran agregat – permintaan agregat keseimbangan dicapai pada keadaan dimana:
Y = C +  I + G + ( X – M)

Apabila Y digantikan dengan : C + S + T, persamaan keseimbangan diatas dapat diganti menjadi :

C +  I + G + ( X – M) = C + S + T

Apabila masing-masing ruas dikurangi dengan C dan M dipindahkan ke ruas kanan, maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi:

I + G + X = S + T + M

Terbukti dari uraian diatas bahwa syarat keseimbangan lain dalam perekonomian 4 sektor adalah:

I + G + X = S + T + M

Penentu Ekspor
Ekspor yang dilakukan suatu negara bergantung kepada faktor. Seseuatu negara dapat mengekspor barang-barang yang dihasilkannya kenegara-negara lain apabila barang-barang tersebut diperlukan negara-negara lain dan mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut. Faktor  yang lebih penting adalah kemampuan dari negara tersebut memproduksikan barang-barang yang dapat bersaing di pasaran luar negeri.

Penentu Impor
Besarnya impor yang dilakukan sesuatu negara-negara lain di tentukan oleh sampai dimana kesanggupan barang-barang yang diproduksi di negara-negara lain untuk bersaing dengan barang yang dihasilkan dinegara lain.
























Gambar 10.2. : Fungsi Ekspor Dan Impor









Gambar 10.3. Keseimbangan Dalam Perekonomian Terbuka



3.    Grafik Keseimbangan Pendapatan Nasional
Grafik (a) menggambarkan keseimbangan berdasarkan pendekatan penawaran agregat permintaan agregat, sedangkan grafik (b) menunjukkan keseimbangan menurut pendekatan suntikan bocoran.
Dimisalkan besar pengeluaran pemerintah dan investasi perusahaan berturut-turut adala G dan I dan ekspor ke luar negeri adalah X. konsumsi RT yang meliputi impor adalah C dan nilai impor adalah M. Maka sesuai dengan analisis persamaan keseimbangan, C + I + G + ( X – M ).

4.    Multiplier Dalam Perekonomian Terbuka
Nilai multiplier dalam perekonomian terbuka akan menjadi kecil tersebut disebabkan dari multiplier 3 sektor. Multiplier yang semakin kecil tersebut disebabkan oleh pemisalan bahwa impor adalah proporsional nilainya dengan pendapatan nasional, sedangkan ekspor adalah bersifat pengeluaran otonomi.



Contoh diatas menunjukkan multiplier dalam perekonomian terbuka adalah:



Dimana MPCdn adalah kecondongan menggunakan marginal pendapatan nasional untuk perekonomian 4 sektor dan dapat dihitung dengn formula:







Dalam contoh angka menunjukkan multiplier = 2, berarti kenaikan ekspor sebanyak Rp. 200 milyar akan menambah pendapatan nasional sebanyak Rp. 400 milyar.

Penghitungan Secara Aljabar



Untuk menerangkan penghitungan multiplier secara aljabar digunakan pemisalan-pemisalan sebagai berikut:
1.      Fungsi konsumsi adalah C = a + b Yd
2.      Pajak proporsional adalah T = tY
3.      Investasi perusahaan adalah Io
4.      Pengeluaran permerintah adalah Go
5.      Ekspor adalah Xo
6.      Impor adalah M = m Y

Berdasarkan kepada pemisalan-pemisalan diatas pendapatan nasional dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan:
                 
Seterusnya misalkan ekspor bertambah sebanyak X, kenaikan ini mewujudkan proses multiplier dan pendapatan nasional bertambah menjadi Y1 yang bernilai:

Nilai kenaikan pendapatan nasional (∆ Y = Y1 – Y ) adalah:


Penghitungan diatas menunjukkan dalam perekonomian terbuka nilai multiplier dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:
Dimana :    b    = kecondongan mengkonsumsi marginal
                  t     = tingkat (%) pajak
                  m   = tingkat (%) impor
dalam contoh angka yang dibuat sebelum ini b – 0,75, t = 0,20 dan m = 0,10

Dengan demikian nilai multiplier adalah:



PERDAGANGAN LUAR NEGERI, KESTABILAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Dalam menganalisa pengaruh dan akibat perdagangan keatas kegiatan perekonomian negara ialah:
1.      Pengaruh perdagangan Luar Negeri keatas pengeluaran agregat
2.      Pengaruh perdangangan Luar Negeri keatas neraca pembayaran dan penggunaan tenaga kerja.
3.      Pengaruh perdagangan Luar Negeri keatas pertumbuhan ekonomi.


Gambar: 10.5. Perdagangan Luar Negeri Neraca Pembayaran & Penggunaan TK penuh
 



1.    Perdagangan Luar Negeri dan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut ahli – ahli ekonomi klasik memandang perdagangan Luar Negeri sebagai suatu penggerak pertumbuhan ekonomi atau engine of grawth. Perdagangan luar negeri mempunyai potensi untuk memberikan 3 sumbangan penting dalam pembangunan ekonomi. Peranannya tersebut secara ringkas sebagai berikut:

1.      Mempertinggi efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi
2.      Memperluas pasar produksi dalam negeri
3.      Mempertinggi produktivitas kegiatan ekonomi.

2.    Kebijakan Fiskal Dan Moneter Dalam Perekonomian Terbuka

Didalam perekonomian terbuka bertujuan itu berarti bahwa usaha untuk mencapai tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi tersebut harus diikuti oleh keadaan neraca pembayaran yang menguntungkan. Berdasarkan kepada sifatnya dalam mempengaruhi perbelanjaan agregat langkah-langkah yang dapat dilaksanakan pemerintah dapat dibedakan 2 golongan:

1.      Kebijakan menekan pengeluaran (expenditure dompening policy)
2.      Kebijakan memindahkan pengeluaran (expenditure switching policy)

DAFTAR PUSTAKA :
Sukirno, Sodono. 2004. Makroekonomi Terori Pengantar. Edisi ketiga. PT.
Rajagrafindo Persada. Jakarta.












KESEIMBANGAN EKONOMI EMPAT SEKTOR


DI SUSUN OLEH :

NOOR MUTIA (25212366)

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor merupakan suatu negara yang mempunyai hubungan ekonomi dengan negara – negara lain. Dalam perekonomian terbuka sebagian produksi dalam negeri diekspor atau dijual ke luar negeri dan disamping itu terdapat pula barang di negara itu yang diimpor dari negara – negara lain. Perekonomian terbuka dinakan juga sebagai ekonomi empat sektor, yaitu suatu ekonomi yang dibedakan kepada empat sektor yaitu :
1.      Rumah tangga
2.      Perusahaan
3.      Pemerintah dan,
4.      Sektor luar negeri.

Model perekonomian selanjutnya adalah yang paling sesuai dengan kenyataan, yaitu bentuk perekonomian terbuka. Ciri perekonomian terbuka adalah adanya kegiatan masyarakat luar negeri dalam bentuk ekspor impor dan pertukaran faktor produksi. Kegiatan ekspor dan impor itu kemudian memunculkan istilah perdagangan internasional. Untuk mengukur seberapa besar nilai ekspor atau impor dapat diketahui dengan melihat neraca perdagangannya. Hasil dari perdagangan internasional itu berupa devisa. Apabila neraca perdagangan suatu negara itu defisit, berarti impor negara tersebut lebih besar dibanding ekspornya. Sebaliknya, suatu negara disebut surplus pada neraca perdagangan bila ekspor lebih besar dari impornya.

Dalam perekonomian empat sektor kita akan melihat dua kelompok pelaku ekonomi, yaitu masyarakat luar negeri dan pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri. Dalam masyarakat luar negeri terdapat rumah tangga konsumsi, perusahaan (rumah tangga produksi), dan pemerintah. Kegiatan kelompok pelaku ekonomi masyarakat luar negeri tersebut membentuk sistem arus perputaran kegiatan ekonomi. Kelompok pelaku ekonomi dalam negeri juga membentuk sistem perputaran kegiatan ekonomi. Jadi, masyarakat luar negeri maupun pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri terdiri atas rumah tangga konsumsi, perusahaan (rumah tangga produksi), dan pemerintah. Mereka saling berinteraksi, sehingga membentuk sistem perputaran faktor produksi, barang dan jasa, serta uang antara masyarakat luar negeri dengan pelaku kegiatan ekonomi dalam negeri.
Diagram aliran interaksi perekonomian empat sektor dijelaskan dalam Bagan 2.3. Perhatikan Bagan 2.3 berikut.



Dari Bagan 2.1, Bagan 2.2, dan Bagan 2.3 dapat dilihat perbedaan interaksi antarpelaku ekonomi dalam perekonomian sederhana (Bagan 2.1), perekonomian tertutup (Bagan 2.2), dan perekonomian terbuka (Bagan 2.3). Hampir semua negara di dunia pada saat ini melakukan interaksi dengan negara lain, sehingga interaksi ekonomi juga melibatkan sektor luar negeri. Sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah merupakan perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy) jika tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Adapun perekonomian suatu negara dikatakan terbuka (open economy) apabila terjadi interaksi dengan sektor luar negeri yang ditandai dengan adanya mekanisme ekspor dan impor. Ekspor merupakan aliran pendapatan dari perekonomian luar negeri ke perekonomian domestik. Adapun impor merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestik ke perekonomian luar negeri.





Model perekonomian yang meliputi kegiatan ekspor dan impor dinamakan perekonomian 4 sektor atau perekonomian terbuka. Dalam model ini ada 2 aliran baru di dalam sirkulasi aliran pendapatan :

1.      aliran pendapatan yang diterima dari mengekspor yang merupakan suntikan kepada aliran pendapatan.
2.      aliran pengeluaran untuk membeli barang yang diimpor dari negara-negara lain yang merupakan bocoran kepada aliran pendapatan.
      
 Keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka. Aspek terakhir ini adalah mutiplier dalam perekonomian terbuka.

1.    Sirkulasi Aliran Pendapatan

Dalam perekonomian terbuka sektor-sektor ekonomi dibedakan kepada 4 golongan: perusahaan, RT, pemerintah, LN. penggunaan faktor-faktor produksi oleh sektor perusahaan akan mewujudkan aliran pendapatan ke sektor RT, berupa: gaji, upah, sewa, bunga, keuntungan ditujukan oleh aliran 1. Aliran pendapatan ini dikurangi pajak keuntungan perusahaan (aliran 2), tetapi belum dikurangi pajak pendapatan RT (aliran 3). RT dalam perekonomian menggunakan pendapatan mereka untuk transaksi sebagai berikut :

  1. membeli barang dan jasa yang diproduksi sektor perusahaan dan pengeluaran konsumsi sebagai konsumsi keatas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri atau Cdn (aliran 4).
  2. membayar pajak pendapatan kepada pemerintah, yaitu oleh aliran 3.
  3. mengimpor, yaitu membeli barang-barang yang yang diproduksi negara lain,  yaitu oleh aliran 5.
  4. menabung sisa pendapatan yang diperoleh kedalam lembaga keuangan, yaitu oleh aliran 6.

Gambar: 10.1.  Aliran-aliran Pendapatan Dalam Perekonomian Terbuka
Disamping itu aliran keluar untuk membayar impor mewujudkan aliran pengeluaran kesektor perusahaan, yaitu aliran oleh pembayaran keatas ekspor sektor perusahaan. Aliran pendapatan dari negara-negara luar oleh aliran 10. aliran 8 adalah pengeluaran pemerintah ke sektor perusahaan  untuk membeli barang-barang kebutuhan administrasi pemerintah dan barang modal untuk investasi pemerintah.

2.    Keseimbangan Pendapatan Nasional
Keseimbangan perekonomian terbuka terlebih dahulu diterangkan secara aljabar persamaan keseimbangan dalam perekonomian tersebut dan ciri-ciri fungsi ekspor dan impor.

Persamaan Keseimbangan
Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa diperjualbelikan terdiri dari yang diproduksikan di dalam negeri, yaitu pendapatan nasional dan yang diimpor dari  negara-negara lain. Dengan demikian dalam  perekonomian terbuka penawaran agregat (AE) terdiri dari pendapatan nasional (Y) dan impor (M). dalam persamaan:

AS = Y + M

Aliran pendapatan dalam perekonomian terbuka menunjukkan pengeluaran agregat keatas pendapatan nasional meliputi 4 komponen yaitu: konsumsi RT (Cdn), investasi perusahaan (I), pengeluaran pemerintah (G) dan ekspor (X). Maka pengeluaran agregat keatas produksi dalam negeri (AEdn) adalah :

AEdn = C dn + I + G + X

Dalam perekonomian terbuka perbelanjaan agregat (AE) meliputi perbelanjaan agregat keatas produksi dalam negeri dan pengeluaran impor, maka:

AE = AEdn + M
Atau



AE = Cdn + I + G + X + M

Konsumsi RT terdiri dari pengeluaran keatas produksi dalam  negeri (Cdn) dan pengeluaran keatas barang impor (M). Maka keseluruhan konsumsi RT (C) adalah:
C = Cdn  + M
Dengan menggantikan Cdn + M menjadi C, persamaan perbelanjaan agregat dapat dinyatakan dengan  persamaan:
AE = C + I + G + X
Perekonomian akan mencapai keseimbangan, apabila penawaran agregat sama dengan pengeluaran agregat. Dalam perekonomian terbuka keadaan keseimbangan tersebut adalah:
Y + M = C +  I + G + X
dimana Y + M adalah penawaran agregat dan C + I + G + X adalah pengeluaran agregat. persamaan itu disederhanakan menjadi:
dari persamaan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam perekonomian terbuka, keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila:

Y = C +  I + G + ( X – M)

Keseimbangan menurut pendekatan penawaran agregat permintaan agregat. Dalam pendekatan suntikan – bocoran, keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai apabila : S + T + M = I + G + X.

Syarat keseimbangan ini dibuktikan dalam uraian berikut. Aliran pendapatan yang diwujudkan dari kegiatan memproduksi pendapatan nasional akan digunakan sebagai berikut :

1.      Membiayai pengeluaran konsumsi keatas barang buatan dalam negeri (Cdn) dan barang impor (M). Maka keseluruhan pengeluaran konsumsi adalah: C = Cdn + M
2.      Membayar pajak (T), yaitu pajak keuntungan perusahaan dan pajak pendapatan RT.
3.      Menyisihkan pendapatan untuk ditabung (S) dilembaga keuangan.


Ditinjau dari segi pendapatan,  pendapatan nasional dapat dihitung, dengan formula berikut:
            Y   = Cdn  + M + S + T
Oleh karena : C   = Cdn  + M
maka             : Y   = C + S + T

menurut pendekatan penawaran agregat – permintaan agregat keseimbangan dicapai pada keadaan dimana:
Y = C +  I + G + ( X – M)

Apabila Y digantikan dengan : C + S + T, persamaan keseimbangan diatas dapat diganti menjadi :

C +  I + G + ( X – M) = C + S + T

Apabila masing-masing ruas dikurangi dengan C dan M dipindahkan ke ruas kanan, maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi:

I + G + X = S + T + M

Terbukti dari uraian diatas bahwa syarat keseimbangan lain dalam perekonomian 4 sektor adalah:

I + G + X = S + T + M

Penentu Ekspor
Ekspor yang dilakukan suatu negara bergantung kepada faktor. Seseuatu negara dapat mengekspor barang-barang yang dihasilkannya kenegara-negara lain apabila barang-barang tersebut diperlukan negara-negara lain dan mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut. Faktor  yang lebih penting adalah kemampuan dari negara tersebut memproduksikan barang-barang yang dapat bersaing di pasaran luar negeri.

Penentu Impor
Besarnya impor yang dilakukan sesuatu negara-negara lain di tentukan oleh sampai dimana kesanggupan barang-barang yang diproduksi di negara-negara lain untuk bersaing dengan barang yang dihasilkan dinegara lain.
























Gambar 10.2. : Fungsi Ekspor Dan Impor









Gambar 10.3. Keseimbangan Dalam Perekonomian Terbuka



3.    Grafik Keseimbangan Pendapatan Nasional
Grafik (a) menggambarkan keseimbangan berdasarkan pendekatan penawaran agregat permintaan agregat, sedangkan grafik (b) menunjukkan keseimbangan menurut pendekatan suntikan bocoran.
Dimisalkan besar pengeluaran pemerintah dan investasi perusahaan berturut-turut adala G dan I dan ekspor ke luar negeri adalah X. konsumsi RT yang meliputi impor adalah C dan nilai impor adalah M. Maka sesuai dengan analisis persamaan keseimbangan, C + I + G + ( X – M ).

4.    Multiplier Dalam Perekonomian Terbuka
Nilai multiplier dalam perekonomian terbuka akan menjadi kecil tersebut disebabkan dari multiplier 3 sektor. Multiplier yang semakin kecil tersebut disebabkan oleh pemisalan bahwa impor adalah proporsional nilainya dengan pendapatan nasional, sedangkan ekspor adalah bersifat pengeluaran otonomi.



Contoh diatas menunjukkan multiplier dalam perekonomian terbuka adalah:



Dimana MPCdn adalah kecondongan menggunakan marginal pendapatan nasional untuk perekonomian 4 sektor dan dapat dihitung dengn formula:







Dalam contoh angka menunjukkan multiplier = 2, berarti kenaikan ekspor sebanyak Rp. 200 milyar akan menambah pendapatan nasional sebanyak Rp. 400 milyar.

Penghitungan Secara Aljabar



Untuk menerangkan penghitungan multiplier secara aljabar digunakan pemisalan-pemisalan sebagai berikut:
1.      Fungsi konsumsi adalah C = a + b Yd
2.      Pajak proporsional adalah T = tY
3.      Investasi perusahaan adalah Io
4.      Pengeluaran permerintah adalah Go
5.      Ekspor adalah Xo
6.      Impor adalah M = m Y

Berdasarkan kepada pemisalan-pemisalan diatas pendapatan nasional dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan:
                 
Seterusnya misalkan ekspor bertambah sebanyak X, kenaikan ini mewujudkan proses multiplier dan pendapatan nasional bertambah menjadi Y1 yang bernilai:

Nilai kenaikan pendapatan nasional (∆ Y = Y1 – Y ) adalah:


Penghitungan diatas menunjukkan dalam perekonomian terbuka nilai multiplier dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:
Dimana :    b    = kecondongan mengkonsumsi marginal
                  t     = tingkat (%) pajak
                  m   = tingkat (%) impor
dalam contoh angka yang dibuat sebelum ini b – 0,75, t = 0,20 dan m = 0,10

Dengan demikian nilai multiplier adalah:



PERDAGANGAN LUAR NEGERI, KESTABILAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Dalam menganalisa pengaruh dan akibat perdagangan keatas kegiatan perekonomian negara ialah:
1.      Pengaruh perdagangan Luar Negeri keatas pengeluaran agregat
2.      Pengaruh perdangangan Luar Negeri keatas neraca pembayaran dan penggunaan tenaga kerja.
3.      Pengaruh perdagangan Luar Negeri keatas pertumbuhan ekonomi.


Gambar: 10.5. Perdagangan Luar Negeri Neraca Pembayaran & Penggunaan TK penuh
 



1.    Perdagangan Luar Negeri dan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut ahli – ahli ekonomi klasik memandang perdagangan Luar Negeri sebagai suatu penggerak pertumbuhan ekonomi atau engine of grawth. Perdagangan luar negeri mempunyai potensi untuk memberikan 3 sumbangan penting dalam pembangunan ekonomi. Peranannya tersebut secara ringkas sebagai berikut:

1.      Mempertinggi efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi
2.      Memperluas pasar produksi dalam negeri
3.      Mempertinggi produktivitas kegiatan ekonomi.

2.    Kebijakan Fiskal Dan Moneter Dalam Perekonomian Terbuka

Didalam perekonomian terbuka bertujuan itu berarti bahwa usaha untuk mencapai tingkat kegiatan ekonomi yang tinggi tersebut harus diikuti oleh keadaan neraca pembayaran yang menguntungkan. Berdasarkan kepada sifatnya dalam mempengaruhi perbelanjaan agregat langkah-langkah yang dapat dilaksanakan pemerintah dapat dibedakan 2 golongan:

1.      Kebijakan menekan pengeluaran (expenditure dompening policy)
2.      Kebijakan memindahkan pengeluaran (expenditure switching policy)

DAFTAR PUSTAKA :
Sukirno, Sodono. 2004. Makroekonomi Terori Pengantar. Edisi ketiga. PT.
Rajagrafindo Persada. Jakarta.












 
Noor Mutia Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template